Bukan Berat Ringannya Cobaan Tapi Sabar Tidaknya Kita Menjalani

Cobaan dalam kehidupan

Sebagai orang muslim, kita harus yakin bahwa dalam hidup kita di dunia ini pasti akan mengalami cobaan. Kita yakin Alloh SWT memberikan cobaan hidup pada orang muslim sebagai cara untuk mengangkat derajad yang bersangkutan di sisiNya.

Jangan lupa bahwa yang namanya cobaan tidak selalu berupa hal-hal yang tidak menyenangkan (hal-hal negatif berupa kehilangan, kesedihan, sakit, dan semacamnya), tetapi bisa juga berupa hal-hal yang menyenangkan (hal-hal yang positif berupa rejeki yang banyak, badan yang sehat, anak yang sukses dan semacamnya).

Menyikapi datangnya cobaan

Sebagai orang muslim yang sedang menerima cobaan maka sikap yang harus dimunculkan adalah sabar. Yang harus dikedepankan adalah menerima qodar cobaan, baik cobaan yang negatif maupun cobaan yang positif. Ketika menghadapi cobaan yang negatif tidak  lantas menjadi galau. Sebaliknya, ketika menghadapi cobaan positif tidak lantas  menjadi berlebihan. Sikap yang sabar adalah kunci yang harus dipegang ketika menghadapi cobaan dalam kehidupan.

Betapa aku sering melihat diriku, keluargaku, temanku atau kebanyakan orang dalam hidup sehari-hari, sering salah menyikapi datangnya cobaan. Baru mendapat cobaan negatif yang kecil dan ringan saja sudah galau tiada tara. Ungkapan-ungkapan ketidaksabaran terucap atau tertuliskan di berbagai platform media sosial sebagai wujud kegalauan dalam menerima dan menjalani cobaan. 

Sebaliknya, betapa seringnya aku melihat atau menunjukkan sikap berlebihan (lebay) ketika menyikapi cobaan yang positif. Munculnya ungkapan orang kaya baru (OKB) ditujukan pada sikap berlebihan dari orang yang mendapatkan cobaan banyaknya harta. Mereka menjadi lupa diri karena banyaknya rizki yang digelontorkan Alloh SWT sehingga tidak sadar bahwa itu adalah cobaan dariNya. Dengan banyaknya harta, bukannya kita menjadi lebih dermawan tetapi justru menjadi lebih pelit.

Alhamdulillah, hari ini (07 Mei 2018) aku kembali mendapatkan hikmah yang tidak ternilai harganya. Hari ini aku bersyukur mendapatkan kesempatan untuk menengok sesepuh di Lampung (bp. H. Syamsuri) yang selama hidupnya, sebelum sakit telah mengabdikan diri untuk pembinaan kefahaman agama warganya.

Melihat posting tentang kondisi kesehatan bp. H. Syamsuri di akun FB putranya membuat hati tergerak untuk berkunjung. Informasi dari FB putra beliau menginfokan bahwa beliau sedang dirawat di rumah sakit. Dari fotonya terlihat ada infus darah yang dipasang. Alhamdulillah, meski tidak sempat membezuk di rumah sakit, karena beliau sudah diijinkan pulang, aku sempat berkunjung ke kediaman beliau di Metro, Lampung.

Sambil berbincang dengan seorang putranya yang lain (bukan yang menginfokan lewat FB), akul mendengar bagaimana dedikasi beliau dalam membina warganya di Lampung hingga berkembang seperti saat ini. Sebelum akhirnya beliau diqodar Alloh SWT. mendapatkan cobaan sakit yang dialaminya hingga saat ini.

Subhanalloh, ternyata beliau sudah menjalani cobaan sakit sejak lebih dari delapan tahun yang lalu. MasyaAlloh, aku hanya bisa membayangkan betapa beratnya cobaan yang harus diterima beliau dengan kondisi sakitnya tersebut. Namun demikian, seberat-beratnya bayangan yang dapat aku gambarkan tentulah jauh lebih berat kenyataan yang harus beliau hadapi.

Satu hal yang membuat hati aku bergetar, bukanlah besarnya cobaan yang beliau terima. Justru kesabaran yang beliau lahirkan dalam menghadapi cobaan, itu yang lebih menggetarkan hati.

Cobaan sakit Nabi Ayub

Mengingat hal itu, aku jadi ingat kisah Nabi Ayub. Nabi Ayub juga mendapat cobaan sakit yang berlangsung selama bertahun-tahun. Bahkan dalam sakitnya, Nabi Ayub juga harus kehilangan semua hartanya, semua anaknya dan dikucilkan dari kaumnya. Bahkan istri-istrinya pun satu per satu meninggalkannya. 

Tapi apa sikap Nabi Ayub menghadapi cobaan itu? Beliau sabar dan tetap sabar menghadapi cobaan. Tidak ada sedikitpun kegalauan yang muncul akibat beratnya cobaan. Pada akhirnya Alloh SWT menghilangkan cobaan sakit yang diberikan dan mengembalikan semua kebahagiaan yang hilang. Bahkan Nabi Ayub dijadikan Alloh SWT sebagai orang yang mulia.

Penutup
Dari perjalanan ke Lampung kali ini, kembali aku mendapatkan mutiara hikmah kehidupan. Ternyata yang penting bukanlah besar atau kecilnya cobaan yang Alloh SWT berikan kepada kita. Yang lebih penting lagi adalah sikap sabar yang kita tunjukkan dalam menghadapi cobaan. Karena kita harus yakin bahwa Alloh SWT selalu menguji kepada hambanya dan Alloh SWT hanya meminta kesabaran dari hambaNya sebagai ganti kemulyaan dan derajad yang tinggi yang akan diberikan. Teriring doa kepada pak H. Syamsuri, semoga Alloh SWT memberi jalan dan qodar terbaik bagi beliau. Aamiiin.

(Bandar Lampung, 07 Mei 2018)

About the author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.